Slide 1

Berita > Jebolnya Tanggul Sungai Tanjung


Selasa, 12 Februari 2019, Dilihat 41 kali

Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Hari Suprayogi, melihat secara langsung tanggul jebol sepanjang 6 m di sungai sungai Guling Tumpeng, Tanjung, Desa Karangreja Kec. Tanjung, Brebes, Jawa Tengah.
Pak Hari menyaksikan secara langsung penanganan dan perbaikan kerusakan tanggul. Metode perbaikan yang digunakan adalah teknologi sederhana berbasis bambu yaitu menggunakan cerucuk dan gapit bambu serta karung berisi tanah. Perbaikan dilakukan tim OP BBWS Cimanuk Cisanggarung. “Jebolnya tanggul sungai Tanjung ini awalnya terjadi pada 15 Februari 2017 dan telah dilakukan penanganan dengan cerucuk bambu dan gapit bambu serta karung isi tanah. Kemudian pada tanggal 2 Februari 2019 terjadi kembali kerusakan di tempat yang sama sepanjang 6 m. Sampai saat ini sedang dikerjakan penanganan dengan menggunakan cerucuk bambu kembali yang diperkirakan akan selesai dalam waktu 3 hari. Akibat dari tanggul jebol ± 6 m di sungai Guling Tumpeng, Tanjung mengakibatkan air sungai merendam persawahan ±
Jebolnya Tanggul Sungai Tanjung Peristiwa
Jebolnya tanggul sungai Tanjung ini awalnya terjadi pada 15 Februari 2017 dan telah dilakukan penanganan dengan menggunakan cerucuk bambu dan gapit bambu serta karung isi tanah. Kemudian pada tanggal 2 Februari 2019 terjadi kembali kerusakan di tempat yang sama sepanjang 6 meter
---
40 Ha sawah di desa Karangreja dan ±30 Ha sawah di desa Sidakaton,” jelas pak Hari. Seperti diketahui Brebes merupakan salah satu wilayah penghasil padi dan bawang merah yang sangat diandalkan. Di samping sebagai sentra penghasil bawang merah, Brebes dikenal juga sebagai penghasil telur-asin. Ada beberapa lokasi yang dominan menghasilkan bawang merah, yaitu jalur kiri pantura (pesisir) dan jalur kanan/ selatan (jalur lereng pegunungan). Jalur padat penghasil bawang merah dimungkinkan karena tingkat kesuburan tanah sekitar lereng. Keduanya menurut para petani memiliki perbedaan kualitas produk tanaman bawang merah dan menurut mereka lebih unggul produk bawang merah dari perkebunan/ sawah jalur selatan (jalur lereng pegunungan slamet dan cermai). Desa Sidakaton dan Karangreja termasuk sentra petani bawang merah.
Air yang merendam persawahan akan mengakibatkan ancaman gagal panen baik bawang merah, padi juga terhambatnya transportasi. Karenanya perbaikan tanggul menjadi prioritas yang harus segera dilakukan. -Usai melihat perbaikan tanggul di Kec. Tanjung, Brebes, perjalanan dilanjutkan ke Sungai Cisanggarung. Ada beberapa titik yang meluap dan mengakibatkan banjir. Hal ini ditengarai karena adanya penyempitan aliran, sedimentasi dan tanggul-tanggul kritis. Akibatnya saat banjir, air sungai melimpas pada tanggul kanan sepanjang 5 km meliputi pemukiman di Desa Karangsambung, Desa Bojongsari, Desa Babakan, Desa Kalibuntu, dan areal persawahan seluas 200 Ha, serta tanggul kritis pada hulu jembatan. BBWS Cimanuk Cisanggarung akan mengusulkan normalisasi Sungai Cisanggarung pada tahun anggaran
2019. Tentunya hal ini bertujuan untuk mengembalikan kapasitas hidrolis sungai Cisanggarung serta rekayasa teknik agar banjir tidak terulang kembali. Ikut dalam kunjungan di lapangan ini adalah Direktur Sungai dan Pantai, Jarot Widyoko dan para Pejabat BBWS Cimanuk Cisanggarung.