Slide 1

Berita > Ka. Balai Tinjau Lokasi Banjir Indramayu


Rabu, 15 Mei 2019, Dilihat 85 kali

Dalam kesempatan dialog dengan warga dan perangkat pemerintahan desa yang terdampak banjir, pak Happy mengatakan akan melakukan normalisasi sungai Cimanuk lama dan menghidupkan kembali aliran yang sudah tidak berfungsi. Seperti diketahui, sepanjang Sungai Cimanuk Lama telah terjadi penyempitan dan pendangkalan, karena itu perlu dilakukan normalisasi. Langkah awal Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung akan membongkar sebuah jalan di desa Pagirikan, Kecamatan Pasekan Indramayu. Hal itu dilakukan guna memperlancar aliran air ke laut. Jalan beraspal yang dibongkar dibangun sejak 25 tahun lalu. Langkah itu dilakukan setelah muncul kesepakatan dalam rapat darurat yang dihadiri Bupati Indramayu, BBWS Ciliwung Cisadane, Dinas PSDA JABAR,
anggota Komisi V DPR RI dan unsur muspida di lokasi jalan di Desa Pagirikan. Semula, jalan sepanjang sekitar 200 meter itu merupakan akses utama yang menghubungkan Kecamatan Indramayu dengan Kecamatan Pasekan. Sayangnya, pembangunan jalan itu telah mematikan aliran Sungai Cimanuk Lama yang menuju ke laut. Imbasnya, kala debit sungai tinggi, air yang seharusnya menuju ke laut, meluap ke kawasan perkotaan. Kepala BBWS Cimanuk Cisanggarung, langsung menginstruksikan jajarannya membongkar jalan tersebut. Dia memperkirakan, pekerjaan itu membutuhkan waktu 3-4 hari ke depan. "Lamanya pembongkaran jalan tergantung alatnya, mungkin (selesai) sekitar tiga sampai empat hari," cetusnya. Diharapkan ketika lokasi di bawah jembatan layang dinormalisasi, aliran air bisa dipercepat ke laut sehingga bisa mengurangi banjir. Pak Happy mengatakan, BBWS Cimanuk Cisanggarung sudah berupaya maksimal untuk mengatasi banjir di Indramayu. Dia juga sudah menginstruksikan jajarannya untuk mendistribusikan mesin pompa ke sejumlah lokasi di wilayah yang tergenang. Langkah itu sebagai upaya mengurangi genangan air yang masih tinggi di sejumlah lokasi. Terkait banjir di Indramayu ini, BBWS sudah melakukan analisis mengapa gelontoran air dari Bendung Rentang Majalengka tidak bisa ditampung sungai Cimanuk. “Air yang digelontorkan dari Rentang 1.000 m3/ perdetik. Kapasitas Sungai Cimanuk 1.300 m3. Seharusnya masih bisa ditampung sungai Cimanuk,” ungkapnya. Tetapi selain tingginya debit air juga diperparah dengan hujan yang
turun terus menerus di daerah hulu Cimanuk. Akibatnya ada tambahan gelontoran air 400 meter kubik ke Indramayu dari Sungai Cipelang, Sungai Cilutung, Sungai Cikeruh dan Sungai Cipawangi. Sungai Cimanuk pun tidak bisa menampung kiriman air dari hulu dan akhirnya meluap. Jadi pada banjir Indramayu ini tidak ada tanggul yang jebol, melainkan limpasan air pada tanggul sungai. Ada beberapa ruas tanggul di Kabupaten Indramayu yang termasuk kategori kritis, ini dikarenakan adanya penurunan yang disebabkan oleh faktor usia tanggul yang ratarata sudah mencapai ± 30 tahun. BBWS Cimanuk Cisanggarung dalam waktu dekat juga akan mengusulkan normalisasi sungai Cimanuk Lama kepada pemerintah pusat. Tahun lalu normalisasi di tempat itu baru mencapai ± 3 km dari panjang sungai yang mencapai 13 km. Menurut pak Happy penyelesaian
banjir seperti yang terjadi di Indramayu ini tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. “Kita tidak bisa bekerja sendiri. Harus lintas kementerian, lintas institusi, lintas stakeholder, dan yang paling banyak berperan tentunya masyarakat," katanya. Karenanya pak Happy berpesan agar masyarakat ikut menjaga kondisi alamiah sungai. “Kalau dahulu luas sungai Cimanuk Lama 30 meter misalnya, tolong jangan mendirikan bangunan-bangunan yang mempersempit aliran sungai. Sampah-sampah juga hendaknya dibuang di tempat-tempat yang sudah disediakan pemerintah kabupaten. Dua hal ini menjadi penyebab banjir yang akibatnya langsung dirasakan masyarakat sendiri”.